SPEDISIA.COM, MAKASSAR – Kemenangan fenomenal Caleg Partai Gerindra Yasir Machmud (YM) pada Pemilu 2024 di Daerah Pemilihan 7 Sulawesi Selatan bukan sekadar keberhasilan finansial, melainkan hasil pembangunan jaringan aktor yang presisi.
Temuan ini mengemuka dalam sidang promosi doktor dengan promovendus Mujiburrahman B. pada departemen Doktor Ilmu Politik FISIP Unhas di Makassar, Jumat (10/4/2026).
Dalam disertasinya yang berjudul “Jaringan Aktor (Studi Tentang Basis Jaringan Keterpilihan Yasir Machmud Sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan pada Pemilu 2024)”, Mujiburrahman membedah rahasia YM meraih 51.437 suara—tertinggi di Dapil 7 Bone—mengungguli 95 caleg lainnya.
Model HPCDN: Politik Hibrid di Era Digital
Menggunakan pisau analisis Actor-Network Theory (ANT) dari Michel Callon dan Bruno Latour, Mujiburrahman menemukan model baru yang ia sebut sebagai HPCDN (Hybrid Patron-Client Digital Network)
“Keberhasilan ini adalah antitesa terhadap sistem patron-klien tradisional. YM membuktikan bahwa pengaruh bangsawan dan aristokrasi dapat dirusak oleh jejaring yang terorganisir secara teknokratis dan berbasis data,” ujar Mujiburrahman di hadapan tim penguji yang dipimpin Promotor Prof. Dr. Muhammad, S.IP., M.Si.

Tiga Pilar Kemenangan
Penelitian ini menyoroti tiga aspek krusial yang menjaga stabilitas dukungan YM hingga hari pemungutan suara:
1. Integrasi Aktan Non-Manusia
Berbeda dengan pola konvensional, YM menjadikan teknologi (analitik pemilih), kampanye digital, dan komoditas (program pupuk gratis) sebagai “aktor” yang memiliki lembaga untuk mengikat pemilih secara fungsional.
2.Proses Translasi 6 Tahap
Jaringan dibangun melalui proses panjang, mulai dari akumulasi modal sosial lewat bisnis, menjadikan isu kelangkaan pupuk sebagai entry point (problematisasi), hingga mobilisasi di 2.270 TPS.
3. Yasir Machmud sebagai OPP
YM memposisikan dirinya sebagai Titik Lintas Wajib (titik krusial). Ia menyatukan modal ekonomi, akademik, dan sosial, yang kemudian diterjemahkan oleh tokoh adat ke dalam nilai budaya Bugis seperti Siri’ na Pacce.
Kebaruan atau kebaruan dari penelitian ini terletak pada penggunaan teori ANT untuk membedah politik lokal. Mujiburrahman menekankan konsep Black Boxing, di mana jaringan YM menjadi begitu solid dan stabil sehingga sulit dipatahkan oleh lawan politik meskipun terdiri dari ribuan elemen yang heterogen.
Keberhasilan studi ini menegaskan bahwa di tengah kuatnya pengaruh dinasti politik, “ketokohan” kini dapat dikonstruksi melalui jaringan manajemen yang profesional dan integrasi budaya yang tepat.





