SPEDISIA-MAKASSAR — Suasana lantai satu kampus Pascasarjana STIE AMKOP Makassar, Senin (27/4/2026), terasa berbeda. Di ruang sidang terbuka itu, Harmawati berdiri tenang di hadapan para penguji. Setelah melalui rangkaian pertanyaan dan argumentasi ilmiah, ia berhasil mempertahankan disertasinya—sebuah kerja panjang yang berangkat dari kegelisahan atas kualitas layanan publik, khususnya di sektor kesehatan.
Penelitian Harmawati menyoroti kinerja aparatur sipil negara (ASN) di RSUD Sawerigading Kota Palopo. Fokusnya sederhana, tetapi krusial: apa yang benar-benar memengaruhi kualitas kerja para pelayan publik?
Dari riset tersebut, ia menemukan dua faktor utama yang kerap dianggap sepele namun berdampak besar, yakni kompensasi dan kecerdasan emosional. Bagi Harmawati, imbalan yang layak bukan sekadar angka dalam slip gaji, melainkan dorongan psikologis yang mampu menggerakkan semangat kerja. Di sisi lain, kemampuan mengelola emosi menjadi bekal penting bagi ASN yang setiap hari berhadapan dengan tekanan dan tuntutan pelayanan.
“Pelayanan publik bukan hanya soal prosedur, tetapi juga soal kesiapan mental,” tergambar dari pemaparan disertasinya.
Menariknya, penelitian ini juga mengungkap sisi lain. Motivasi pelayanan publik yang selama ini sering dianggap sebagai fondasi utama, ternyata tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja. Justru, kepuasan kerja menjadi faktor yang lebih menentukan. Ketika pegawai merasa dihargai dan diperlakukan adil, performa mereka cenderung meningkat secara signifikan.
Temuan tersebut membawa Harmawati pada sejumlah catatan kritis. Ia menilai masih ada persoalan mendasar yang perlu dibenahi, seperti tunjangan kesehatan yang dinilai belum memadai. Fasilitas kerja yang kurang optimal juga berpotensi memicu ketidakpuasan di kalangan ASN.
Karena itu, ia merekomendasikan perbaikan sistem kompensasi serta penguatan kecerdasan emosional melalui pelatihan berkelanjutan. Baginya, peningkatan kualitas layanan kesehatan tidak bisa hanya mengandalkan regulasi, tetapi juga harus menyentuh aspek kesejahteraan dan kesiapan psikologis para pelaksana di lapangan.
Sidang hari itu bukan sekadar penanda akademik. Gelar doktor yang diraih Harmawati menjadi simbol dari upaya memahami persoalan pelayanan publik dari dalam—dari pengalaman, data, dan refleksi panjang. Sebuah langkah kecil yang diharapkan dapat memberi dampak lebih luas bagi perbaikan layanan kesehatan di masa depan. (***)




