SPEDISIA-MAKASSAR – Inovasi teknologi pangan berbasis edible packaging atau kemasan yang dapat dimakan menjadi fokus pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Adiansyah Syarifuddin yang berlangsung di lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Senin (25/5/2026).Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Adiansyah menegaskan bahwa edible packaging merupakan inovasi strategis yang tidak hanya berfungsi memperpanjang masa simpan produk pangan, tetapi juga mendukung sistem pangan berkelanjutan dan pengurangan limbah lingkungan.

Menurutnya, isu ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan kini menjadi agenda penting dalam pembangunan nasional. Karena itu, diperlukan transformasi dari sistem pengawetan konvensional menuju teknologi pengawetan yang lebih ramah lingkungan.
Teknologi pertanian, khususnya ilmu dan teknologi pangan, harus menjadi pionir dalam menerapkan sistem pengawetan yang lebih berkelanjutan, dapat dimakan, dan mendukung ekonomi sirkular,” ujarnya.Ia menjelaskan, penggunaan plastik sintetis berbasis petrokimia yang terus meningkat memunculkan persoalan baru. Selain biaya yang semakin tinggi, material tersebut sulit terurai dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
Kondisi tersebut mendorong pengembangan material alternatif yang bersifat biodegradable, aman dikonsumsi, serta mampu mempertahankan mutu pangan selama penyimpanan.Prof. Adiansyah menjelaskan bahwa edible packaging memanfaatkan biopolimer alami seperti polisakarida, protein, dan lipid yang bersumber dari potensi hayati tropis maupun maritim.
Secara fungsional, teknologi tersebut tidak hanya menjadi pelindung fisik produk pangan, tetapi juga memiliki kemampuan menahan perpindahan oksigen, uap air, minyak, hingga kontaminasi mikroba.Edible packaging juga dapat menjadi media pembawa senyawa aktif seperti antioksidan, antimikroba, vitamin, dan komponen lainnya yang mampu meningkatkan stabilitas serta keamanan pangan,” katanya.
Dalam pengembangannya, bersama tim dosen dan mahasiswa, pihaknya melakukan berbagai riset mulai dari pemanfaatan jenis biopolimer, metode ekstraksi, penggunaan plasticizer, penambahan senyawa bioaktif, hingga metode aplikasi pada produk pangan.Tidak hanya itu, tim peneliti juga mengembangkan edible packaging berbasis kombinasi polisakarida-protein dengan memanfaatkan teknologi nanopartikel.
Menurutnya, penggunaan nanopartikel memiliki potensi besar karena mampu meningkatkan sifat mekanik, daya hambat, ketahanan termal, kualitas optik, hingga aktivitas antimikroba dan antioksidan pada edible film sehingga masa simpan pangan dapat diperpanjang.Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian, seperti aspek migrasi nanopartikel, keamanan pangan, dampak lingkungan, serta regulasi penggunaan teknologi tersebut.Pada akhir pidatonya, Prof. Adiansyah menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor industri untuk mempercepat hilirisasi teknologi tersebut.
Ia berharap penerapan edible packaging dapat menjadi solusi pengawetan pangan masa depan yang mampu menghadirkan produk yang aman, bermutu tinggi, bergizi, serta lebih ramah lingkungan.Sinergi menjadi kunci agar teknologi ini dapat diterapkan lebih luas untuk mendukung ketahanan pangan nasional,” tutupnya.(***)





