Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*

 

New York adalah kota bagi semua bangsa, etnis, agama, dan budaya. Kota ini merangkul seluruh warganya dan memberi ruang berekspresi sesuai aspirasi serta keyakinan masing-masing. Salah satu bentuk ekspresi yang menjadi ciri khas warga New York adalah pawai atau parade, yang hampir setiap segmen masyarakat kota ini selenggarakan.

 

Saya pribadi pernah menjabat sebagai Ketua International Muslim Day Parade di New York selama beberapa tahun, sekaligus Presiden Muslim Foundation of America—organisasi induk penyelenggara pawai Islam internasional tahunan di kota ini. Karena itu, saya memahami betul arti penting sebuah parade bagi warga New York: ia adalah kebanggaan sekaligus penegasan bahwa kita bagian tak terpisahkan dari kota yang kita sebut rumah bersama.

 

Salah satu pawai terbesar di New York adalah Pawai Tahunan Israel. Pawai ini bukan hanya besar dari segi jumlah peserta, tetapi juga rutin dihadiri pejabat tinggi, baik di tingkat kota, negara bagian, maupun federal. Konon, sejak pertama kali digelar sekitar 61 tahun lalu, belum pernah ada Walikota New York yang absen. Hal ini menunjukkan posisi istimewa pawai tersebut di mata para pejabat.

 

Walikota Mamdani Menolak Hadir

 

Namun, Walikota New York saat ini, Zohran Kwame Mamdani, memutuskan untuk tidak hadir pada Pawai Tahunan Israel tahun ini. Keputusan itu langsung menjadi isu hangat yang menuai pro dan kontra.

 

Sejak awal kampanye, Mamdani secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap hak-hak Palestina sekaligus menentang Zionisme Israel sebagai ideologi penjajahan, bukan sebagai negara. Sikap ini membuatnya tidak populer di kalangan warga Yahudi New York yang berideologi Zionis. Maka, keputusannya untuk absen dari pawai Israel tentu akan dipolitisasi guna menyudutkannya.

 

Dua hari lalu, misalnya, digelar demonstrasi cukup besar di depan kediaman resmi walikota, Gracie Mansion, oleh kelompok Yahudi Zionis. Menariknya, pada saat bersamaan, sekelompok Yahudi Ortodoks non-Zionis menggelar aksi tandingan untuk mendukung Mamdani. Intinya, keputusan Mamdani tidak hadir semakin mempertajam sentimen negatif dari warga Yahudi Zionis di New York. Ketidakhadirannya pun dipelintir seolah-olah Walikota yang Muslim ini bersikap antisemit dan diskriminatif terhadap sebagian warganya.

 

Alasan Penolakan Zohran Mamdani

 

Ada beberapa pertimbangan yang mendasari keputusan Walikota Mamdani untuk tidak menghadiri pawai tersebut. Alasan yang paling prinsip berkaitan dengan keyakinannya tentang kemanusiaan dan keadilan universal: Israel adalah negara dengan politik Zionis yang melakukan penjajahan. Selama Israel masih menjajah Palestina, nurani sang Walikota menolak berkompromi.

 

Sejak awal, salah satu janji kampanyenya adalah tidak akan menghadiri sebagian besar parade di New York dengan alasan yang jelas dan kuat. Salah satunya adalah jika parade tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap negara penjajah yang melakukan kejahatan perang dan genosida.

 

Pawai Israel jelas merupakan ajang promosi negara Zionis Israel, bukan sekadar ekspresi agama atau budaya Yahudi. Karena itu, keputusan Mamdani untuk tidak hadir bukan hanya wujud konsistensi dan amanah terhadap janji politiknya, tetapi juga penegasan sikap menolak genosida dan penjajahan yang dilakukan negara Zionis Israel di Palestina. Bagi saya pribadi, ini adalah bentuk kejujuran iman dan kemanusiaan.

 

Maka jelas, penolakan hadir dalam pawai ini bukanlah sikap anti-agama atau anti-komunitas tertentu. Faktanya, Mamdani tetap menggelar perayaan hari besar Yahudi di kediaman resmi walikota. Bahkan, melalui departemen yang bertugas memerangi antisemitisme, pemerintahannya meningkatkan anggaran hingga 800 persen. Ini menunjukkan komitmen nyata untuk melindungi seluruh warga New York, termasuk komunitas Yahudi. Meski tidak hadir, Walikota tetap menjamin keamanan penuh bagi pelaksanaan pawai tersebut.

 

Pada akhirnya, kita menyadari bahwa tidak mudah bagi beliau menghadapi situasi ini. Kegaduhan ini muncul bukan semata karena ketidakhadirannya dalam pawai, tetapi yang lebih utama karena ia seorang Muslim yang kini menjadi orang nomor satu di kota yang dikenal sebagai pusat komunitas Yahudi terkuat di luar Tel Aviv.

 

Kita doakan semoga Walikota kita senantiasa dikuatkan dalam mengemban amanah warga New York, diberi petunjuk dalam setiap pengambilan keputusan, dan dilindungi dari segala marabahaya. Amin!

 

New York, 29 Mei 2026