SPEDISIA–SURABAYA,- Produk olahan hasil laut menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat pesisir Surabaya. Namun, untuk dapat bersaing lebih luas, terutama memasuki pasar ritel modern, pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan cita rasa produk. Kualitas proses produksi, kemasan, informasi produk, hingga kemampuan memanfaatkan teknologi digital kini menjadi bagian penting dalam membangun daya saing usaha.
Semangat inilah yang mendorong tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur melakukan pendampingan kepada Toko Kerupuk Risma, salah satu UMKM olahan hasil laut di kawasan Sukolilo, Kecamatan Bulak, Surabaya.
Program bertajuk “Penguatan Daya Saing UMKM Hasil Laut Sukolilo melalui Inovasi TTG Mutu, Umur Simpan, dan Kepatuhan Label untuk Pasar Ritel Modern” dipimpin oleh Aulia Nurul Hikmah, S.P., M.Si., bersama Cholid Fadil, S.Sos.I., M.Pd.I., Mirza Andrian Syah, S.P., M.P., serta mahasiswa Achmad Alfido Anugrah P. dan Rafael Yusufi.

Toko Kerupuk Risma sendiri memiliki beragam produk khas hasil laut dan makanan ringan, mulai dari kerupuk blinjo udang, kentang udang, kulit kakap, terung, hingga teripang. Keberagaman produk tersebut menjadi modal besar untuk pengembangan usaha.
Namun, hasil observasi tim menunjukkan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi.

Salah satunya adalah proses penirisan minyak setelah penggorengan yang masih dilakukan secara manual menggunakan saringan. Dari sisi kemasan, sebagian produk juga masih menggunakan plastik polos tanpa identitas merek dan informasi produk yang memadai. Sementara untuk distribusi menggunakan kardus, mitra masih membutuhkan teknologi pendukung agar proses pengemasan menjadi lebih praktis.
Pada aspek pemasaran, Kerupuk Risma sebenarnya telah mengenal media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Akan tetapi, pemanfaatannya belum sepenuhnya dikelola sebagai kanal pemasaran khusus usaha. UMKM tersebut juga belum memiliki website yang dapat menjadi pusat informasi produk dan identitas bisnis.
Teknologi Disesuaikan dengan Masalah Nyata UMKM

Pendampingan yang dilakukan tim tidak dimulai dengan sekadar memberikan bantuan peralatan. Program terlebih dahulu diawali dengan observasi, komunikasi dengan pengelola, sosialisasi, pemberian materi pendahuluan, hingga pre-test bagi pengelola dan karyawan.
Pendekatan tersebut dilakukan agar teknologi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan usaha.
Hasil identifikasi kemudian diterjemahkan dalam sejumlah teknologi tepat guna. Pada 29 Juli 2026, tim menyerahkan mesin peniris minyak, printer label, handheld inkjet printer, serta mesin strapping untuk kardus kepada mitra. Selain itu, program juga menghasilkan website Kerupuk Risma sebagai sarana penguatan pemasaran digital.

Mesin peniris minyak diarahkan untuk membantu proses pascapenggorengan yang sebelumnya masih mengandalkan penirisan manual. Penggunaan teknologi tersebut diharapkan membuat proses kerja menjadi lebih praktis sekaligus mendukung penanganan produk yang lebih baik.
Sementara itu, printer label dan handheld inkjet printer disiapkan untuk membantu UMKM memperkuat identitas produknya.
Jika sebelumnya produk banyak dikemas menggunakan plastik polos, ke depan merek “Kerupuk Risma” beserta informasi produk dapat ditampilkan dengan lebih jelas pada kemasan.

Penguatan aspek label menjadi penting karena kemasan bukan lagi sekadar pembungkus, tetapi juga media komunikasi antara produsen dan konsumen. Informasi yang jelas dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus menjadi salah satu persyaratan penting ketika UMKM ingin memperluas akses ke pasar yang lebih formal.
Adapun mesin strapping disediakan untuk menunjang proses pengemasan produk menggunakan kardus, khususnya bagi produk yang dikirim ke luar Surabaya maupun ke luar Provinsi Jawa Timur.

Tidak Berhenti pada Bantuan Alat
Salah satu prinsip penting dalam program ini adalah memastikan teknologi tidak berhenti sebagai “barang bantuan”.
Karena itu, pengelola dan karyawan Kerupuk Risma juga dilibatkan dalam proses peningkatan kapasitas. Mereka memperoleh pemahaman mengenai tujuan program, fungsi teknologi, serta hubungan antara perbaikan proses produksi, kemasan, identitas produk, dan pemasaran.

Pada tahap berikutnya, tim akan mendampingi penggunaan alat secara langsung. Pengelola dan karyawan akan dilatih mengoperasikan serta merawat mesin peniris minyak, printer label, handheld inkjet printer, dan mesin strapping.
Pendampingan juga akan mencakup aspek produksi, pengemasan, dan pemasaran digital.
Dengan pendekatan seperti ini, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak alat yang diberikan, tetapi dari sejauh mana mitra mampu menggunakan teknologi tersebut secara mandiri dalam aktivitas usaha sehari-hari.

Website Jadi Etalase Baru Kerupuk Risma
Transformasi UMKM juga diarahkan ke ruang digital.
Website Kerupuk Risma telah dibangun sebagai media yang dapat menampilkan profil usaha, jenis produk, identitas bisnis, hingga informasi pemesanan dan kontak.
Keberadaan website diharapkan membuat informasi usaha menjadi lebih terpusat dan tidak hanya bergantung pada akun media sosial. Bagi UMKM, identitas digital yang lebih profesional dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar dan membangun kepercayaan konsumen baru.
Pengelolaan website tersebut selanjutnya masih akan mendapat pendampingan agar dapat benar-benar dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi pemasaran usaha.
Dari Pemberdayaan Menuju Kemandirian
Hingga tahap laporan kemajuan, empat dari enam tahapan kegiatan telah diselesaikan, mulai dari observasi, sosialisasi, pemberian materi dan pre-test, hingga penyerahan teknologi.
Program juga telah menghasilkan berbagai luaran pendukung seperti website usaha, video impact sekitar tiga menit, poster ilmiah, publikasi media massa, serta artikel jurnal pengabdian yang telah disubmit dan menunggu proses editorial atau review.
Meski demikian, tim belum menyimpulkan adanya peningkatan produksi, mutu produk, maupun kinerja pemasaran secara langsung. Pengukuran dampak baru akan dilakukan setelah teknologi benar-benar digunakan oleh mitra.
Tahap selanjutnya akan difokuskan pada praktik penerapan teknologi, pendampingan, serta evaluasi melalui post-test dan pengamatan terhadap perubahan proses kerja.
Indikator yang akan diperhatikan antara lain kemampuan menggunakan peralatan, perubahan proses produksi, penggunaan label dan informasi produk, pengemasan kardus, pemanfaatan media digital, serta kemandirian mitra dalam menggunakan dan merawat teknologi.
Langkah tersebut penting agar program pemberdayaan tidak berakhir saat alat diserahkan, tetapi mampu menghasilkan perubahan nyata di tingkat usaha.
Penguatan UMKM seperti Kerupuk Risma memperlihatkan bahwa transformasi usaha tradisional menuju pasar yang lebih modern dapat dimulai dari persoalan-persoalan sederhana: bagaimana minyak ditiriskan, bagaimana produk diberi identitas, bagaimana kardus dikemas, hingga bagaimana konsumen menemukan produk melalui internet.
Ketika teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pemasaran digital berjalan beriringan, produk lokal berpeluang memiliki posisi yang semakin kuat di tengah persaingan pasar.
Bagi UMKM hasil laut Sukolilo, perjalanan menuju pasar modern kini bukan lagi sekadar tentang menghasilkan kerupuk yang enak, tetapi juga tentang membangun mutu, identitas, kepercayaan, dan kesiapan usaha untuk tumbuh lebih besar.

 

Dari Kerupuk Tradisional ke Pasar Modern, UMKM Sukolilo Diperkuat Teknologi dan Digitalisasi

Surbaya– Produk olahan hasil laut menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat pesisir Surabaya. Namun, untuk dapat bersaing lebih luas, terutama memasuki pasar ritel modern, pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan cita rasa produk. Kualitas proses produksi, kemasan, informasi produk, hingga kemampuan memanfaatkan teknologi digital kini menjadi bagian penting dalam membangun daya saing usaha.
Semangat inilah yang mendorong tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur melakukan pendampingan kepada Toko Kerupuk Risma, salah satu UMKM olahan hasil laut di kawasan Sukolilo, Kecamatan Bulak, Surabaya.
Program bertajuk “Penguatan Daya Saing UMKM Hasil Laut Sukolilo melalui Inovasi TTG Mutu, Umur Simpan, dan Kepatuhan Label untuk Pasar Ritel Modern” dipimpin oleh Aulia Nurul Hikmah, S.P., M.Si., bersama Cholid Fadil, S.Sos.I., M.Pd.I., Mirza Andrian Syah, S.P., M.P., serta mahasiswa Achmad Alfido Anugrah P. dan Rafael Yusufi.

Toko Kerupuk Risma sendiri memiliki beragam produk khas hasil laut dan makanan ringan, mulai dari kerupuk blinjo udang, kentang udang, kulit kakap, terung, hingga teripang. Keberagaman produk tersebut menjadi modal besar untuk pengembangan usaha.
Namun, hasil observasi tim menunjukkan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi.(***)