SPEDISIA-MAKASSAR,– Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar menggelar kegiatan Diseminasi Hasil Kajian Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wisata Bahari Indonesia Timur dalam Mewujudkan Pariwisata Naik Kelas, Jumat (13/3/2026).bertempat di Hotel D Anjong Lantai 2.

Kegiatan ini diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan acara oleh Direktur Politeknik Pariwisata Makassar, Dr. Herry Rachmat Widjaja. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada para akademisi, praktisi industri pariwisata, serta mitra yang hadir dalam forum tersebut.

Turut hadir sebagai panelis dan undangan di antaranya Prof. Dr. Suparman Abdullah, Prof. Dr. Ansar Arifin, Prof. Dr. Haedar Akib, serta perwakilan industri pariwisata dari GIPI, ASITA, PHRI, UNHAS,UNIFA dan sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi.

Usai sambutan pembuka, panitia memberikan penghargaan kepada para panelis sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam pengembangan kajian pariwisata. Acara kemudian ditutup oleh MC dan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Dr. Islahuddin, yang akrab disapa Tetta.

Dalam sambutannya, Herry Rachmat Widjaja menjelaskan bahwa Politeknik Pariwisata Makassar merupakan salah satu perguruan tinggi di bawah Kementerian Pariwisata yang memiliki mandat sebagai pusat pengembangan kajian wisata bahari (marine tourism) di kawasan timur Indonesia.

Menurutnya, wilayah Indonesia Timur memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata bahari, mulai dari Kepulauan Spermonde, Wakatobi, Bunaken, Banda Neira hingga Raja Ampat.

Posisi Poltekpar Makassar sangat strategis karena berada di kawasan yang kaya dengan potensi wisata bahari. Karena itu, penguatan kajian marine tourism menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan pariwisata di Indonesia Timur,ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengembangan wisata bahari juga sejalan dengan program prioritas Kementerian Pariwisata, seperti Gerakan Wisata Bersih, digitalisasi pariwisata, serta program pariwisata naik kelas.

Sementara itu, Kepala Unit Center for Marine Tourism Studies Poltekpar Makassar, Dr. Syamsu Rijal, dalam paparannya menyebutkan bahwa sekitar 68 persen potensi bentang laut dan pesisir Indonesia berada di kawasan timur.

Namun, potensi besar tersebut dinilai belum memberikan dampak optimal terhadap ekonomi masyarakat maupun keberlanjutan lingkungan.

Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, degradasi ekosistem dan penurunan daya tarik destinasi wisata bahari dapat terjadi,” jelasnya.

Tim kajian Poltekpar Makassar sendiri meneliti 10 destinasi wisata bahari di kawasan timur Indonesia, termasuk Spermonde, Takabonerate, Wakatobi, Bunaken, Banda Neira, hingga Raja Ampat.

Sementara itu, panelis dari kalangan akademisi Prof. Dr. Ansar Arifin menilai pengembangan wisata bahari tidak boleh hanya berfokus pada promosi dan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.

Menurutnya, pariwisata bahari juga berkaitan dengan persoalan kebijakan, tata kelola ruang pesisir, konflik kepentingan, serta dinamika sosial masyarakat pesisir.

Transformasi pariwisata tidak boleh hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan jumlah kunjungan, tetapi harus memperhatikan keberlanjutan ekologi serta keadilan sosial bagi masyarakat lokal,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya memahami struktur sosial masyarakat pesisir, termasuk peran punggawa yang selama ini menjadi penggerak ekonomi nelayan.

Kegiatan diseminasi ini diharapkan menjadi forum strategis untuk merumuskan kebijakan dan rekomendasi dalam pengembangan wisata bahari berkelanjutan di Indonesia Timur.(***)#wisatabahari#poltekparmakassar