SPEDISIA-JAKARTA,— PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mencatat kinerja operasional dan keuangan yang solid sepanjang 2025, mencerminkan ketangguhan perseroan dalam menghadapi dinamika pasar serta memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Berdasarkan laporan keuangan auditan, produksi nikel dalam matte mencapai 72.027 metrik ton (t) sepanjang 2025, meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 71.311 t.

Secara triwulanan, produksi pada triwulan IV 2025 (4T25) tercatat sebesar 17.052 t, turun sekitar 12 persen dibandingkan triwulan III 2025 (3T25) yang mencapai 19.391 t. Penurunan ini terutama disebabkan oleh dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 sejak November 2025, yang ditargetkan selesai pada Mei 2026.

Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (4T24) sebesar 18.528 t, produksi 4T25 sedikit lebih rendah. Namun, secara tahunan, kinerja produksi tetap menunjukkan peningkatan.

Kondisi ini mencerminkan komitmen perseroan dalam menjaga keandalan operasional serta mengelola produksi secara efisien.

Penjualan dan Diversifikasi Produk

Selain produksi utama nikel matte, PT Vale mulai memperluas portofolio bisnis melalui penjualan bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi dan Pomalaa.

Sepanjang 2025, penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons (wmt), dengan volume bulanan tertinggi pada Oktober sebesar 516.167 wmt. Blok Bahodopi menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan tersebut.

Rinciannya, penjualan dari:

Blok Bahodopi mencapai 2.017.764 wmt

Blok Pomalaa sebesar 298.259 wmt

Kinerja Keuangan Tetap Tumbuh

Pengiriman nikel matte sepanjang 2025 tercatat sebesar 73.093 t, meningkat dari 72.625 t pada 2024. Hal ini turut mendukung capaian EBITDA sebesar 228,2 juta dollar AS, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Secara triwulanan, EBITDA pada 4T25 tercatat sebesar 61,9 juta dollar AS, turun 17 persen dibandingkan triwulan sebelumnya akibat volume produksi yang lebih rendah.

Harga realisasi rata-rata nikel matte pada 2025 tercatat sebesar 12.157 dollar AS per ton, turun 7 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 13.086 dollar AS per ton.

Meski demikian, peningkatan payability sejak Juli 2025 serta volume pengiriman yang lebih tinggi mendorong pendapatan perseroan naik 4 persen menjadi 990,2 juta dollar AS, dari sebelumnya 950,4 juta dollar AS.

Secara triwulanan, pendapatan mencapai 284,8 juta dollar AS, naik 2 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel.

Efisiensi Biaya dan Laba Bersih

Dari sisi biaya, PT Vale mampu menjaga unit biaya kas penjualan pada level kompetitif sebesar 9.339 dollar AS per ton, sedikit lebih rendah dibandingkan 2024 sebesar 9.374 dollar AS per ton. Angka ini juga menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir.

Sementara itu, biaya kas penjualan untuk bisnis bijih nikel tetap stabil di kisaran 17–19 dollar AS per ton.

Perseroan membukukan laba bersih sebesar 76,1 juta dollar AS pada 2025, meningkat 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini ditopang oleh kinerja operasional yang lebih baik serta disiplin dalam pengelolaan biaya.

Belanja Modal dan Posisi Kas

Sepanjang 2025, belanja modal (capital expenditure/capex) mencapai 485,9 juta dollar AS, meningkat 46 persen dibandingkan 2024 sebesar 332,1 juta dollar AS.

Per 31 Desember 2025, saldo kas perseroan tercatat sebesar 376,3 juta dollar AS, mencerminkan posisi keuangan yang solid untuk mendukung ekspansi dan proyek strategis.

Tantangan dan Prospek 2026

Pada semester pertama 2025, PT Vale menghadapi sejumlah tantangan operasional, termasuk gangguan produksi dan insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus 2025.

Namun demikian, perseroan mencatat sejumlah pencapaian penting, seperti dimulainya penjualan bijih nikel dari Bahodopi serta kemajuan dalam peningkatan payability nikel matte.

Dari sisi keberlanjutan, PT Vale juga menunjukkan kinerja ESG yang kuat dengan peringkat risiko Sustainalytics sebesar 23,7 per November 2025, menjadikannya salah satu perusahaan pertambangan dengan peringkat terbaik di Indonesia.

Memasuki 2026, perseroan fokus pada pengembangan proyek hilirisasi dan pertambangan, termasuk proyek di Pomalaa yang telah mencapai sekitar 60 persen. Sementara itu, proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) telah mencapai sekitar 50 persen tahap konstruksi dan ditargetkan mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan III 2026.

Dengan berbagai inisiatif strategis tersebut, PT Vale optimistis dapat menjaga pertumbuhan berkelanjutan dengan tetap mengedepankan disiplin keuangan, tata kelola yang kuat, serta komitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan.(***)#ptvale#vale