SPEDISIA-PASURUAN – Pengembangan agrowisata kopi di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, tidak cukup mengandalkan panorama pegunungan dan perkebunan. Integrasi teknologi digital serta produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai menjadi kunci untuk menciptakan pengalaman wisata sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Temuan itu terungkap dalam penelitian tim Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur bertajuk Formulasi Strategi Pengembangan Agrowisata Kopi Terintegrasi UMKM Berbasis Blue Ocean Strategy di Kabupaten Pasuruan. Kajian tersebut melibatkan 100 wisatawan serta sejumlah pemangku kepentingan di sektor pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Prigen dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan wisata berbasis kopi. Selain berada di kawasan pegunungan, wilayah tersebut memiliki aktivitas perkebunan, komoditas kopi lokal, serta akses relatif dekat dengan pasar wisata Surabaya dan daerah sekitarnya.

Persoalannya, berbagai potensi itu belum sepenuhnya terhubung dalam satu rantai pengalaman. Aktivitas petani, pengelola destinasi, dan pelaku UMKM masih cenderung berjalan sendiri. Pengunjung dapat menikmati panorama maupun sajian kopi, tetapi belum selalu memperoleh kesempatan mengenal kebun, proses pengolahan, hingga membeli produk lokal dalam satu rangkaian.

Perubahan perilaku wisatawan turut menjadi perhatian. Hasil survei menunjukkan pengunjung kini tidak hanya mencari pemandangan atau produk kopi. Kemudahan mendapatkan informasi secara daring, kenyamanan fasilitas, aktivitas yang bisa dinikmati bersama keluarga dan komunitas, serta ketersediaan cendera mata lokal turut memengaruhi minat mereka.

Informasi digital menjadi salah satu aspek dengan penilaian tinggi. Dari sejumlah pilihan inovasi, paket wisata berbasis digital dan paket oleh-oleh menjadi dua konsep yang paling diminati. Kelas coffee cupping serta area khusus pemasaran produk UMKM juga mendapat respons positif.

Temuan lainnya menunjukkan besarnya peluang transaksi bagi pelaku usaha setempat. Sebanyak 74 persen responden menyatakan bersedia membeli paket yang menggabungkan kegiatan wisata dengan produk UMKM. Sementara itu, 90 persen mengaku tertarik kembali jika tersedia paket wisata kopi yang lebih lengkap.

Data tersebut kemudian diperdalam melalui wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan petani, kelompok tani, UMKM, pengelola destinasi, Pokdarwis, BUMDes, pemerintah, komunitas kopi, hingga akademisi.

Dari rangkaian kajian itu, peneliti menawarkan dua model pengembangan. Pertama, Farm-to-Cup Modular Experience, yakni paket yang mengajak wisatawan mengikuti perjalanan kopi mulai dari kebun, pengolahan, roasting, cupping, hingga pembelian produk lokal.

Konsep modular memungkinkan pengunjung memilih aktivitas sesuai waktu dan minat. Dengan begitu, wisata tidak harus berlangsung dalam satu rangkaian panjang.

Model kedua adalah Coffee Experience & Local Market. Konsep ini memadukan aktivitas pengenalan kopi dengan sentra produk UMKM. Bentuknya dapat berupa kelas singkat, lokakarya, kuliner khas, area penjualan cendera mata terkurasi, hingga layanan pemesanan secara digital.

Menurut tim peneliti, pendekatan tersebut berpotensi memperpanjang rantai ekonomi dari sebuah kunjungan. Uang yang dibelanjakan wisatawan tidak hanya berhenti pada tiket atau konsumsi kopi, tetapi dapat mengalir ke petani, pengolah, pelaku UMKM, hingga penyedia jasa wisata.

Dalam skema tersebut, Pokdarwis dan BUMDes dapat berperan sebagai penghubung antarpelaku. Pemerintah daerah mendukung melalui kebijakan, fasilitas, dan promosi. Sementara komunitas serta perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam edukasi, pendampingan, dan pengembangan inovasi
tambah nama ketua/tim peneliti? Dr. Ir. Mubarokah, MT (Ketua) Anggota:1. Dr. Putra Astaman, S.Pt., M.Si.2. Aulia Nurul Hikmah, S.P., M.Si.3. Briliani Raras Sakapuspa, SE., M.SE.(***)