SPEDISIA-MAKASSAR — Maraknya perang kelompok dan kejahatan jalanan di Kota Makassar menuai kritik Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sulawesi Selatan. Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) dan Polrestabes Makassar didesak mengevaluasi efektivitas pengamanan karena konflik yang berulang membuat warga khawatir terhadap kondisi keamanan.
Ketua JMSI Sulsel, Ilham Husen, menilai berulangnya bentrokan menunjukkan perlunya pembenahan strategi pencegahan dan deteksi dini oleh kepolisian.
“Maraknya kembali perang kelompok dengan pola yang semakin brutal ini menunjukkan adanya celah dalam pemetaan potensi konflik dan pola pengamanan preventif. Jangan sampai masyarakat merasa tidak aman di kotanya sendiri,” tegas Ilham di Makassar.
Menurutnya, penanganan konflik tidak cukup dengan membubarkan bentrokan atau menangkap pelaku setelah kejadian. Polisi perlu memperkuat intelijen, memetakan titik rawan, dan menindak tegas pelaku tanpa pandang bulu.
JMSI Sulsel juga menyoroti provokasi melalui media sosial yang berpotensi memicu bentrokan fisik. Tim patroli siber dan intelijen kepolisian diminta lebih responsif mendeteksi ancaman sebelum berkembang menjadi konflik terbuka.
“Konflik sering kali dipicu oleh aksi saling tantang di media sosial sebelum akhirnya pecah di lapangan. Karena itu, rantai provokasi harus diputus sebelum menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material,” ujarnya.
JMSI Sulsel mendesak kepolisian berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Makassar, tokoh masyarakat, akademisi, dan elemen pemuda untuk merumuskan langkah pencegahan yang menyasar akar persoalan.
Evaluasi menyeluruh, menurut JMSI, diperlukan agar penanganan perang kelompok tidak sekadar bersifat reaktif, tetapi mampu memberikan rasa aman dan kepastian hukum bagi masyarakat. (***)



