SPEDISIA.COM | MAKASSAR – Kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin di Partai Golkar Sulsel mulai memasuki fase krusial.

Hal itu sekaitan dengan penentuan komposisi pengurus. Termasuk keberadaan figur atau sosok yang paling tetap mendampingi IAS sebagai sekretaris partai.

Memasuki hari ke 13, pasca mantan Walikota Makassar dua periode itu terpilih secara aklamasi 20 Juli lalu, juga sekaligus ditetapkan sebagai tim formatur, sampai hari ini belum ada kepastian jelas siapa yang digadang-gadang menjadi sekretaris dari empat atau lima nama yang beredar.

Masing-masing adalah Arfandy Idris, Armin Mustamin Toputiri, Patarai Amir hingga Rahman Pina. Termasuk Abd Razak Said salah satu tokoh muda Sulsel yang kini menjadi fungsionaris DPP Partai Golkar.

Sejumlah pengamat politik menilai, sekretaris partai memiliki peran penting dan cukup krusial.

Posisi sekretaris dinilai sebagai ‘mesin’ utama organisasi yang tidak hanya mengatur administrasi.

Tetapi strategi dalam menjalankan roda organisasi secara menyeluruh dan komunikasi internal kader harus mampu dikuasai dan dikelola secara matang demi kepentingan arah partai kedepan.

Olehnya, IAS sebagai pengendali utama di Golkar Sulsel harus berhati-hati dalam memilih siapa di antara 4 figur yang paling layak dan tepat menjadi sekretaris untuk keberlangsungan organisasi.

Sebaliknya, Pengamat Politik UIN Alauddin Makassar Dr. Ibnu Hajar Yusuf menilai jika IAS salah dalam memilih sekretaris, praktis akan menimbulkan perpecahan di internal bahkan partai bisa saja mengalami mati suri.

“Hal inilah yang perlu dan penting dipikirkan Pak IAS jika menginginkan partai golkar kembali ke masa jayanya seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Dr. Ibnu Hajar yang juga Ketua DPW IPTI Sulawesi Selatan.

Ia menilai, posisi sekretaris sangatlah krusial dalam sebuah organisasi kepartaian karena ia sebagai motor penggerak organisasi menghadapi kontestasi politik mendatang.

Apalagi tantangan partai Golkar ke depan cukup berat, terutama menghadapi Gerindra dan NasDem di Sulsel 2029 mendatang.

Untuk itu, demi meminimalisir muncul dan terjadinya kegaduhan di internal kepengurusan partai kedepan, figur sekretarisnya harus memahami betul isi AD/ART partai Golkar, memiliki komunikasi yang baik sampai ke tingkat bawah dan terpenting kuat di akar rumput.

Menurutnya, peran sekretaris partai cukup berat karena sebagian meliputi implementasi dan eksekusi serta mampu membaca dan memahami arah politik organisasi.

“Termasuk menyusun strategi untuk memandu mesin operasional organisasi dalam mengimplementasikan agenda politik,” tegas Ibnu Hajar

Sementara itu, Pengamat politik UIN Alauddin Makassar, Prof Firdaus Muhammad menilai seluruh nama yang beredar untuk menduduki posisi kursi sekretaris merupakan kader militan yang memiliki rekam jejak pengabdian panjang di Golkar.

“Semua kader militan dan teruji kinerja serta pengabdiannya di partai,” ujar Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar periode 2019-2023 itu.

Yang terpenting adalah kecocokan dengan Pak IAS. Selain harus sevisi dalam mengembangkan Golkar, figur sekretaris juga harus mampu mendukung upaya partai bersaing dengan kekuatan politik lain.

Selian kecocokan, hal lainnya kandidat calon sekretarisnya tidak resisten di internal partai itu sendiri, dia harus bebas konflik dari masa lalu dan terpenting tidak menjadi beban bagi Pak IAS untuk membesarkan partai Golkar.

Sehingga, tak ada pilihan lain, Golkar Sulsel harus segera menata diri lebih awal dan terkonsolidasi agar seluruh kader solid bekerja membesarkan partai secara masif.

Mengingat, tantangan ke depan partai Golkar cukup berat apalagi jika ingin kembali merebut kursi Ketua DPRD Sulsel pada kontestasi mendatang. (***)