SPEDISIA-MOJOKERTO – Perubahan pola cuaca mulai menjadi tantangan bagi petani kopi di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Pergeseran musim hujan dan kemarau serta ketidakpastian curah hujan dinilai dapat mengganggu produktivitas hingga keberlanjutan usaha perkebunan kopi.

Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian tim Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur. Kajian itu menyoroti kemampuan petani mempertahankan usahanya di tengah risiko perubahan iklim dengan melibatkan sejumlah petani kopi di Trawas sebagai responden.

Peneliti menggunakan Climate Risk Index (CRI) untuk memetakan tingkat risiko yang dihadapi. Indeks tersebut mencakup tiga aspek, yakni paparan terhadap perubahan iklim, tingkat kerentanan usaha, serta kemampuan beradaptasi.

Hasil kajian menunjukkan ketidakpastian musim berpotensi memengaruhi sejumlah tahapan budidaya. Mulai pembungaan, pembentukan buah, pemeliharaan tanaman hingga produksi. Dampaknya tidak berhenti pada jumlah panen, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap mutu biji kopi dan pendapatan keluarga petani.

“Perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan perubahan curah hujan atau musim. Bagi petani kopi, perubahan tersebut dapat berpengaruh terhadap proses budidaya, produksi, mutu hasil, dan pada akhirnya pendapatan rumah tangga,” kata Ketua Tim Peneliti UPN Jatim, Aulia Nurul Hikmah, S.P., M.Si.

Menurut Aulia, kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting untuk menghadapi tekanan tersebut. Kapasitas itu tidak semata ditentukan penggunaan teknologi budidaya, tetapi turut dipengaruhi pengetahuan, pengalaman, akses informasi, kondisi ekonomi serta strategi pengelolaan usaha.

Penelitian juga mengukur tingkat resiliensi melalui tiga indikator, yaitu kemampuan mempertahankan produksi, menjaga mutu kopi dan menjamin kesinambungan pendapatan. Ketiganya kemudian dihitung dalam Indeks Resiliensi Usahatani (IRU).

“Resiliensi usahatani kami lihat sebagai kondisi yang lebih menyeluruh. Petani dikatakan memiliki resiliensi yang lebih baik apabila mampu mempertahankan produksi, menjaga mutu hasil, sekaligus mempertahankan keberlanjutan pendapatannya ketika menghadapi tekanan,” jelasnya.

Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan penyusunan strategi adaptasi yang lebih sesuai dengan karakteristik petani dan kondisi wilayah. Sebab, kemampuan setiap pelaku usaha tidak sama. Perbedaan sumber daya, pengalaman, akses informasi hingga kondisi ekonomi membuat pola adaptasi yang efektif bagi satu petani belum tentu cocok diterapkan pada lainnya.

Tim peneliti menilai hasil kajian dapat dimanfaatkan pemangku kepentingan sebagai bahan pertimbangan dalam merancang program penguatan ketahanan petani terhadap perubahan iklim di tingkat lokal.

Kajian selanjutnya akan diperluas ke Kabupaten Jember. Langkah itu diharapkan menghasilkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kemampuan petani kopi di Jawa Timur dalam menghadapi tekanan perubahan iklim.(*)