Oleh: Andi Sitti Syahidah Takdir

Di Makassar, kekuasaan sering bekerja dengan cara yang bising. Kota ini bergerak cepat, panas, dan penuh tuntutan. Dalam ritme seperti itu, jabatan seolah menuntut satu hal yang sama: ketegasan yang terlihat, suara yang meninggi, dan gestur dominan agar publik percaya pemerintah sedang “mengendalikan keadaan”. Makassar adalah kota besar dengan energi besar, tetapi juga dengan konflik kepentingan yang mudah menyala. Karena itu, banyak pemimpin memilih gaya yang keras: cepat, tegas, dan tak jarang emosional di ruang publik.

Namun menjelang setahun Alyah Mustika Ilham menjabat sebagai Wakil Wali Kota Makassar, saya melihat sesuatu yang berbeda: kepemimpinan yang bekerja tanpa banyak teriakan.

Alyah tidak tampil sebagai figur politik dalam pengertian klasik. Ia tidak menjadikan dirinya pusat komando, tidak memonopoli panggung, tidak memerintah dengan nada yang menekan. Ia hadir dengan cara yang lebih jarang disorot media: merawat, mendengar, dan menenangkan. Dalam bahasa yang sederhana, ia memimpin seperti seseorang yang paham bahwa kota bukan hanya angka, program, dan proyek, tetapi manusia yang tiap hari bertahan hidup di dalamnya.

Bagi banyak perempuan di kota ini, terutama ibu-ibu pedagang kecil, pekerja informal, atau warga yang datang membawa berkas dengan rasa cemas, cara seorang pemimpin berbicara bisa menjadi penentu: apakah mereka merasa dilayani atau dipermalukan. Saya pernah mendengar kalimat yang terasa kecil tetapi menyimpan makna besar dari seorang ibu di pinggir jalan: “Kalau yang itu, enakmi didengar. Bukanji langsung marah-marah.” Dalam kalimat pendek itu, ada pengalaman panjang tentang betapa seringnya warga kecil dipaksa takut pada ruang-ruang kekuasaan.

Dalam teori kepemimpinan perempuan, pendekatan semacam ini sering dijelaskan melalui konsep ethic of care, etika kepedulian.

Kepemimpinan tidak semata tentang efisiensi keputusan, tetapi tentang relasi sosial, tanggung jawab moral, dan keberlanjutan. Ia tidak bekerja dengan logika menundukkan, melainkan merawat. Dan justru di kota yang keras, kepemimpinan yang merawat adalah bentuk ketegasan yang paling sulit: ketegasan untuk tetap tenang, tetap manusiawi, tetap membuka ruang dialog ketika situasi mendorong orang untuk mengeras.

Makassar sering bergerak dalam logika kompetisi. Ruang publik cepat memanas, bahasa politik mudah meninggi. Dalam iklim seperti ini, kelembutan sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal, pengalaman sehari-hari menunjukkan sebaliknya: ketegangan bisa melunak ketika dihadapi dengan kesabaran.

Konflik tidak selalu harus dimenangkan; kadang ia cukup diurai agar tidak meledak. Di sinilah kehadiran Alyah menjadi signifikan sebagai penyeimbang.

Kepemimpinan kota tidak hadir dalam satu wajah. Ada gaya yang kaku dan dominan yang bekerja cepat, tetapi berisiko menciptakan jarak: warga patuh tanpa percaya, birokrasi tertib tanpa rasa. Ketertiban semacam itu tampak kuat di permukaan, tetapi rapuh di dalam.

Alyah, sebaliknya, memberi bantalan sosial: menahan agar kebijakan tidak sepenuhnya berubah menjadi komando, agar warga tidak sepenuhnya merasa kecil di hadapan jabatan.

Kepemimpinan yang merawat memang jarang masuk tajuk utama. Ia tidak selalu viral, tidak selalu dramatis. Tetapi ia terasa dalam hal-hal kecil: warga datang tanpa takut, birokrasi lebih bersedia mendengar, dan konflik tidak cepat meledak karena lebih dulu diberi ruang bicara.

Dalam jangka panjang, inilah investasi sosial yang paling menentukan: stabilitas kota yang lahir dari kepercayaan, bukan dari ketegangan.

Menjelang setahun ini, refleksi yang layak kita pegang sederhana: jabatan tanpa kebijaksanaan hanya melahirkan ketertiban yang rapuh, sementara kebijaksanaan tanpa keberanian akan mudah dilupakan.