Waktu Terus Berlalu, Kesempatan Kedua Belum Tentu Kembali

Tahun Baru Islam datang tanpa aba-aba.
Tanpa kembang api yang membelah langit, tanpa gemuruh pesta.
Hanya sunyi berbaliknya selembar kalender… sementara lilin usia kita berakhir setahun lagi.

Kita tergesa menenun resolusi, tapi lupa kebenaran paling kejam tentang waktu:
yang pergi takkan kembali. Tak ada harta di dunia yang sanggup menebus sedetik yang hilang.

Perubahan besar tak lahir dari lompatan megah. Ia dipahat dari tindakan kecil yang berkesibambungan: sedikit lebih sabar saat diuji, sedikit lebih bersyukur di kala sempit, sedikit lebih khusyuk dalam sujud, sedikit lebih lembut kepada sesama.

Jika Allah masih menganugerahi kita nafas hingga tahun ini, ketahuilah: pintu perubahan itu masih terbuka. Perayaan tibanya tahun baru yang hakiki bukan pada seberapa nyaring kita menyambut tahun, tapi seberapa dalam tahun itu menempa ulang diri kita.

Semoga tahun ini menjadi awal hijrah yang lebih jujur. Hati yang makin dekat kepada Allah. Langkah yang makin teguh menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, dan selalu dalam ridhoNya.

Cakmanu, waktu terus melangkah maju. Kesempatan kedua belum tentu datang lagi. “Selamat Tahun Baru 1448 H”.

(Shamsi Ali Al-Nuyorki)