Oleh Shamsi Al-Kajangi Al-Nuyorki*

Saya sebenarnya malas, atau mungkin tidak peduli lagi bahkan apatis, dengan apa yang sedang terjadi di Timur Tengah. Termasuk perang yang masih terus berlangsung antara Iran dan Israel dengan dukungan penuh Amerika Serikat. Selain memang tekad saya untuk tidak terdiktraksi selama bulan Ramadan, juga karena melihat sikap sebagian pemimpin dunia Islam yang mengecewakan bahkan memalukan. Pemimpin yang saya maksud mencakup pemimpin politik dan sebagian pemimpin agama.

Contoh terdekat barangkali yang masih terngiang di benak banyak orang adalah pembentukan apa yang disebut “Dewan Perdamaian” (Board of Peace) dan didukung oleh beberapa negara Muslim. Alasannya? Biar suara dunia Islam semakin didengar. Bahkan sebagian mengklaim BOP sebagai satu-satunya solusi untuk Gaza dan Palestina. Realitanya? Tidak saja BOP itu mulai mati suri di jalan. Kekerasan juga terus berlangsung, Tidak saja di Gaza, tapi di seluruh bumi Palestine. Bahkan Masjid Al-Aqsa, rumah ibadah suci ketiga dunia Islam ditutup selama Ramadan. Sementara anggota BOP dari dunia Islam tak mampu berbuat apa-apa bak terbelenggu tak berdaya.

Perang Iran dan Expansi Israeli Raya

Di tengah hebohnya pembentukan BOP yang dianggap “dewa penyelamat” Gaza dan Palestine, disusul dengan terbongkarnya kejahatan abad 21 terhadap wanita di bawah umur yang dikenal dengan “Epstein scandal”, dan ditengah negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika yang ditengahi oleh Oman, tiba-tiba saja Israel dengan dukungan penuh Amerika menyerang Iran. Akibatnya hampir 200 anak-anak perempuan tewas. Beberapa pemimpin Iran juga meninggal dalam serangan itu, termasuk pemimpin spiritual tertinggi Ali Khamenei dan Chief negotiator Ali Larijani.

Serangan Israel (anggota Istimewa BOP) dengan dukungan penuh Amerika (Ketua seumur hidup BOP) it jelas nyata di depan mata semua sebagai tindakan yang paradoksikal dengan apa yang dipropagandakan sebagai “the spirit of Board Peace”. Lebih jauh tindakan itu menginjak-injak semua norma dan hukum internasional. Runyamnya lagi, tindakan dua negara itu seolah biasa dan dunia menjadi diam. Anggota-anggota BOP, termasuk dunia Islam, diam bahkan cenderung menyalahkan Iran karena menyerang balik Israel dan pangkalan militer Israeli di berbagai negara tetangganya.

Serangan Israel dengan dukungan penuh Amerika ke Iran ini jelas bukan karena kenyataan bahwa Iran mampu memproduksi senjata nuklir. Nyatanya tidak ada indikasi sedikitpun yang menguakan jika “uranium enrichment” Iran itu bertujuan memproduksi senjata nuklir. Bahkan kalaupun tuduhan itu benar, Israel dan Amerika secara hukum international tidak memiliki otoritas untuk menyerang negara berdaulat tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB.

Banyak asumsi di balik dari serangan unilateral itu. Dari eliminasi kemungkinan Iran memproduksi senjata nuklir, ke ambisi menguasasi kekayaan alam Iran sebagai produsen minyak terbesar ketiga atau keempat dunia, memblok pengaruh China dan Rusia di Timur Tengah, dan seterusnya. Tapi dari semua kemungkinan penyebab serangan itu, hal yang paling pasti adalah serangan ini merupakan jalan untuk memastikan bagi Israel untuk ekspansi demi mewujudkan apa yang menjadi impian negara Zionis: Israel Raya dengan betdirinya the Kingdom of David di Jerusalem.

Mimpi Zionis global untuk mewujudkan Israel Raya dengan Ibukota Jerusalem dan lebih khusus tegaknya kembali the Temple of Solomon tersebut secara khusus ingin mengeliminir eksistensi masjid Al-Aqsa yang diyakini telah menduduki rumah suci Sulaeman itu. Karenanya serangan Israel ke Iran memiliki multi purposes (banyak tujuan). Selain melemahkan semua yang dianggap penghalang bagi terwujudnya Israel Raya, dan Iran dipandang sebagai ancaman terbesar bagi Israeli saat ini. Juga untuk mengalihkan semua perhatian agar rencana besar mereka untuk Gaza dan Palestina semakin tidak terdeteksi. Yang paling runyam adalah rencana pengambil alihan masjid Al-Aqsa untuk selanjutnya akan dihancurkan secara pelan dan systematis.

Momentum Persatuan Umat

Berkali-kali saya sampaikan terbuka bahwa kemerdekaan Palestina dan pembebasan Jerusalem dan masjid Al-Aqsa tidak akan pernah terwujud jika harapan itu ditumpukan pada kebaikan orang lain (non Muslim). Lebih mustahil lagi dan sangat menggelikan ketika dunia Islam bermimpi Amerika (dan Israel) akan berbaik hati memberikan jalan bagi Palestina untuk merdeka. Pandangan saya ini memang nampak pessimis dan serasa “mission impossible.” Tapi dalam beberapa bulan saja fakta itu terkuak di hadapan mata telanjang kita. Amerika dan Israeli tidak punya niat baik untuk kemerdekaan Palestine dan pembebasan Jerusalem/masjid Al-Aqsa. Dunia Islam saja yang sedang larut dalam mimpi indahnya.

Sebaliknya saya berkali-kali menyampaikan keyakinan saya bahwa solusi bagi Palestine dan Masjid Al-Aqsa ada pada kemampuan umat membangun kesatuan dan menggunakan segala potensinya untuk melawan kezholiman Zionist, baik yang berwajah Israel maupun Amerika. Israel terbukti lemah tanpa dukungan Amerika. Dan Amerika terbukti goyah ketika ada kepentingannya yang tertahan, khususnya dari dunia Islam. Jangankan dunia Islam bersatu. Satu negara saja yang bernyali melawan Amerika bisa goyah.

Kita diingatkan bagaimana Saudi Arabia suatu ketika di bawah raja peberani, Raja Faisal, mampu menggoncang perekonomian Amerika. Dan hari ini kita saksikan dengan ditutupnya selat Hormuz oleh Iran cukup menggoncang perekonomian Amerika, bahkan menggoncang posisi Trump dalam konflik ini. Berkali-kali dia mengaku jika dia salah kalkulasi tidak meyangka Iran sekuat itu. Kini bahkan menyalahkan para pembantunya, termasuk menantunya Jared Kushner, yang disebut telah mendorongnya untuk menyerang Iran.

Jika satu negara mampu menggoncang Amerika yang disebut-sebut super power itu, apalagi jika dunia Islam mampu bersatu dan mensinergikan potensi yang ada, khususnya di bidang energi, saya yakin Amerika tidak akan semena-semena seperti saat ini. Bahkan sejujurnya harapan besar Amerika saat ini adalah menyeret negara-negara Islam menyerang Iran. Syukur hal itu belum terjadi sehingga Donald Trump cukup putus asa.

Barangkali hal lain yang bisa menyatukan dunia Islam adalah kenyaaan bahwa pemerintahan Donald Trump melalui Menteri Perang (menhan) secara terbuka mengatakan bahwa perang ini adalah perang melawan Islam, baik Sunni maupun Syiah. Pernyataan ini harusnya ditangkap sebagai signal jika Kristen ekstrimis yang mendominasi pemerintahan Donald Trump memang memiliki mimpi yang sama: mempersiapkan Israel Raya untuk kembalinya “Al-Masih” di akhir zaman ini.

Sedihnya, semua ini belum meyadarkan dunia Islam. Bahkan tanpa malu-malu bergabung dengan mereka di BOP..gila kan?

 

*Poetra Kajang di Kota New York.